BAB menyimpulkan bahwa itu merupakan program yang baik

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

Latar Belakang

Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia
dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Indonesia merupakan penghasil sampah
plastik kedua di dunia setelah Tiongkok. Hal ini merupakan problematika yang
sangat besar bagi kesehatan lingkungan dan merupakan ancaman yang besar jika
tidak ditangani. Mendengar hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK) berencana untuk mengaplikasikan kembali program kantong plastik berbayar
yang tahun lalu dianggap telah sukses dengan tujuan mengurangi penumpukan
sampah plastik sekaligus mendorong penggunaan tas dari bahan hasil daur ulang
pada industri ritel

 

Tujuan

1.     
Memahami
maksud dari kebijakan kantong plastik berbayar.

2.     
Mengetahui
kelemahan kebijakan plastik berbayar.

 

Pertanyaan

1.     
Kelemahan
apa saja yang ditimbulkan oleh kebijakan plastik berbayar?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

 

Program plastik berbayar ini diklaim telah menurunkan
penggunaan kantong plastik di 23 kota. Walaupun program plastik berbayar
terdengar menjanjikan untuk dapat mencegah konsumen untuk menggunakan kantong
plastik, satu pertanyaan tetap tersisa. seberapa efektifkah program tersebut?

Jika dilihat dari konsep kantong plastik yang tidak
gratis, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa itu merupakan program yang baik
untuk membantu memerangi produksi limbah plastik di Indonesia yang sangat
banyak akibat padatnya populasi Indonesia, terutama di kota-kota besar. Akan
tetapi, jika dilihat dari eksekusinya, program ini masih belum jelas kekuatan
hukumnya sehingga program ini harus dihentikan. Hal ini sungguh disayangkan,
akan tetapi jika dianalisa lebih lanjut, dapat dilihat bahwa program ini
memiliki banyak kelemahan.

Kelemahan yang pertama adalah lemahnya “sanksi” yang
diberikan. Rp.200 untuk tetap menggunakan kantong plastik tidak terdengar
sebagai kompensasi yang cukup berat untuk tetap mencemarkan lingkungan dengan
limbah plastik. Jika ingin menghindari masyarakat untuk tetap menggunakan
plastik, sebaiknya ditetapkan harga yang lebih tinggi agar konsumen berpikir
dua kali untuk menggunakan kantong plastik dan menggunakan alternatif lain
seperti tas belanja yang ramah lingkungan. Hal ini dikarenakan perbelanjaan
skala kecil seperti di mini market merupakan salah satu kontributor sampah
plastik yang “boros” karena jika misalnya anda hanya membeli 1 botol air
mineral di mini market, anda akan diberi 1 tas plastik kecil untuk membawa
botol aqua tersebut. Tentu, anda bisa menolak, namun orang lain belum tentu
akan menolak hal tersebut. Jika misalnya tas plastik diberi harga Rp1.000
per-kantong, konsumen dapat berpikir dua kali untuk membayar lebih hanya untuk
membawa 1 botol air mineral berukuran sedang yang dapat dibawa tanpa tas plastik.

Kelemahan kedua adalah kurangnya alternatif lain
selain tas plastik untuk berbelanja. Saat ini, plastik yang paling “baik”
adalah biodegradable plastic. Akan tetapi, menurut UNEP (United Nations
Environment Programme), penggunaan plastik biodegradable berpengaruh sangat
kecil dalam memproteksi planet Bumi, terutama biota laut. Dalam laporan UNEP,
tertulis bahwa “Plastik yang ditandai ‘biodegradable,’ tidak terurai
secara cepat di laut.” Oleh karena itu, alternatif tas plastik sangat
dibutuhkan karena meskipun tersedia tas belanja ramah lingkungan, tas tersebut
hanya cocok dalam belanja skala kecil, itu pun jika konsumen mau membeli tas
tersebut yang masih mendapat stigma mahal walaupun dapat membantu pengurangan
sampah plastik dan bermanfaat bagi lingkungan. Masalahnya sebenarnya adalah
pada konsumen yang berbelanja bulanan dalam volume yang besar yang membutuhkan
alat untuk membawa hasil belanja tersebut. Hal ini dapat ditangani dengan
adanya pilihan untuk konsumen yang direkomendasikan oleh petugas ritel seperti
menggunakan tas lain yang tidak terbuat dari plastik. Saat ini, tas belanja
ramah lingkungan hanya tersedia dalam ukuran kecil dan masih dipandang “mahal”
dan juga didukung oleh kurangnya kesadaran masyarakat atas bahayanya limbah
plastik. Ada baiknya ritel menyediakan tas belanja yang berukuran lebih besar
dengan harga yang tidak terlalu tinggi dan sedikit sosialisasi tentang masalah
plastik agar konsumen tertarik untuk menggunakan tas belanja dibandingkan tas
plastik.

 

 

 

 

BAB III

 

 

Kesimpulan

Dari penjabaran ini, dapat disimpulkan bahwa walaupun
program plastik berbayar terdengar bagus dan menjanjikan, eksekusi yang buruk
dan kekuatan hukumnya yang kurang jelas membuatnya harus dihentikan. Ada
baiknya program ini diluncur ulang dengan memperhatikan kelemahan-kelemahan
yang terdapat pada eksekusi sebelumnya dan memperbaiki kekurangan tersebut agar
dapat terwujud program yang efektif untuk membantu menangani limbah plastik di
Indonesia. Solusi yang harus dilakukan terutama penyelesaian sengketa hukum, pemberatan
“sanksi”, dan penyediaan alternatif yang diperkuat oleh sosialisasi untuk
masyarakat agar memilih alternatif tersebut. 

Comments are closed.